Dalam bukunya yang berjudul "Cara membaca Al-Qur'an dengan bahasa Syro-aramaic, Sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesulitan memahami bahasa Al-Qur'an" (Die syro-aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschluesselung der Koransprache) itu, "Christoph Luxenberg." dengan nekat mengklaim bahwa; Pertama, bahasa Al-Qur'an sebenarnya bukan bahasa Arab. Karena itu, menurut dia, banyak kata-kata dan ungkapan yang sering dibaca keliru atau sulit difahami (in einem Ausmass verlesen und missdeutet wurde) kecuali dengan merujuk pada bahasa Syro-aramaic yang konon merupakan lingua franca pada masa itu. Kedua, bukan hanya kosa-katanya berasal dari Syro-aramaic, bahkan isi ajarannya pun diambil dari tradisi kitab suci Yahudi dan Kristen-Syria (Peshitta); Ketiga, Al-Qur'an yang ada tidak otentik, perlu ditinjau kembali dan di-edit ulang (Zur Richtigstellung des an zahlreichen Stellen verlesenen Korantextes ist eine kritische Edition .... sicherlich.
Asumsi Keliru
Tidak sulit untuk membantah dan menolak Luxenberg, sebab seluruh uraiannya dibangun atas asumsi-asumsi yang keliru. Pertama, ia mengira Al-Qur'an dibaca berdasarkan tulisannya, sehingga ia boleh seenaknya berspekulasi tentang suatu bacaan. Kedua, ia menganggap tulisan adalah segalanya, menganggap manuskrip sebagai patokan, sehingga suatu bacaan harus disesuaikan dengan dan mengacu pada teks. Ketiga, ia menyamakan Al-Qur'an dengan Bibel, di mana pembaca boleh mengubah dan mengutak-atik teks yang dibacanya bila dirasa tidak masuk akal atau sulit untuk difahami. Ketiga asumsi ini dijadikan titik-tolak dan fondasi argumen-argumennya taken for granted, tanpa terlebih dahulu dibuktikan kebenarannya.
Orientalisme adalah studi Islam yang dilakukan oleh orang-orang Barat. Kritikus orientalisme bernama Edward W Said menyatakan bahwa orientalisme adalah suatu cara untuk memahami dunia Timur berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa.
Asumsi Keliru
Tidak sulit untuk membantah dan menolak Luxenberg, sebab seluruh uraiannya dibangun atas asumsi-asumsi yang keliru. Pertama, ia mengira Al-Qur'an dibaca berdasarkan tulisannya, sehingga ia boleh seenaknya berspekulasi tentang suatu bacaan. Kedua, ia menganggap tulisan adalah segalanya, menganggap manuskrip sebagai patokan, sehingga suatu bacaan harus disesuaikan dengan dan mengacu pada teks. Ketiga, ia menyamakan Al-Qur'an dengan Bibel, di mana pembaca boleh mengubah dan mengutak-atik teks yang dibacanya bila dirasa tidak masuk akal atau sulit untuk difahami. Ketiga asumsi ini dijadikan titik-tolak dan fondasi argumen-argumennya taken for granted, tanpa terlebih dahulu dibuktikan kebenarannya.
Orientalisme adalah studi Islam yang dilakukan oleh orang-orang Barat. Kritikus orientalisme bernama Edward W Said menyatakan bahwa orientalisme adalah suatu cara untuk memahami dunia Timur berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa.
Secara bahasa orientalisme berasal dari kata orient yang artinya timur. Secara etnologis orientalisme bermakna bangsa-bangsa di timur, dan secara geografis bermakna hal-hal yang bersifat timur, yang sangat luas ruang lingkupnya. Orang yang menekuni dunia ketimuran ini disebut orientalis. Menurut Grand Larousse Encyclopedique seperti dikutip Amin Rais orientalis adalah sarjana yang menguasai masalah-masalah ketimuran, bahasa-bahasanya, kesusastraannya, dan sebagainya. Karena itu orientalisme dapat dikatakan merupakan semacam prinsip-prinsip tertentu yang menjadi ideologi ilmiah kaum orientalis.
Kata isme menunjukkan pengertian tentang suatu faham. Jadi, orientalisme bermakna suatu faham atau aliran yang berkeinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa di timur beserta lingkungannya.
Studi yang dilakukan para orientalis berangkat dari paradigma berfikir bahwa Islam adalah agama yang bisa diteliti dari sudut mana saja dan dengan kebebasan sedemikian rupa. Tidak mengherankan kalau mereka begitu bebasnya menilai, mengritik bahkan melucuti ajaran-ajaran dasar Islam yang bagi kaum Muslim tabu untuk dipermasalahkan.
Studi yang mereka lakukan meliputi seluruh aspek ajaran Islam seperti sejarah, hukum, teologi, quran, hadis, tasauf, bahasa, politik, kebudayaan dan pemikiran. Di antara mereka ada yang mengkaji Islam meliputi seluruh aspek tadi, ada juga yang hanya meneliti satu aspek saja. Philiph K Hitti, HAR Gibb, dan Montgomery Watt banyak menfokuskan pengkajian pada aspek sejarah Islam. Sementara Joseph Schact pada kajian hukum Islam, David Power pada kajian Quran, dan A J Arberry pada aspek tasauf.
Sebagai contoh David Power pernah meneliti sedalam-dalamnya ayat-ayat Qur’an sehingga memunculkan kesimpulan Quran tidak sempurna antara lain karena tidak adil membagi waris antara laki-laki dan perempuan. Josep Schacht pernah meneliti masalah hadis sedemikian rupa sehingga pembaca bisa tergiring ke kesimpulan bahwa hadis tidak layak menjadi sumber hukum Islam.
Contoh Orientalis memandang salah al-qur`an yaitu "Christoph Luxenberg." mengutak-atik surah Al-'Alaq semata-mata dengan alasan bahwa isinya, seperti mana surat Al-Faatihah, diklaim diambil dari liturgi Kristen-Syria tentang jamuan makan malam terakhir Yesus: "Als solche hat sie [i.e. QS 96] den Charakter eines zur christlich-syrischen Liturgie einleitenden .... (proo?ยต??? prooemium), das in der spaeteren islamischen Tradition von der (Fatiha) (syro-aramaeisch ... ptaha) (einleitendes Gebet) abgeloest wurde. Dass es sich bei dieser Liturgie um das Abendmahl handelt, darauf verweist der abschliessende syro-arameische Terminus."
Contoh Orientalis memandang salah al-qur`an yaitu "Christoph Luxenberg." mengutak-atik surah Al-'Alaq semata-mata dengan alasan bahwa isinya, seperti mana surat Al-Faatihah, diklaim diambil dari liturgi Kristen-Syria tentang jamuan makan malam terakhir Yesus: "Als solche hat sie [i.e. QS 96] den Charakter eines zur christlich-syrischen Liturgie einleitenden .... (proo?ยต??? prooemium), das in der spaeteren islamischen Tradition von der (Fatiha) (syro-aramaeisch ... ptaha) (einleitendes Gebet) abgeloest wurde. Dass es sich bei dieser Liturgie um das Abendmahl handelt, darauf verweist der abschliessende syro-arameische Terminus."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar